Senin, 28 November 2011

Review : The Billionare / Wai Roon Pan Lan (2011)


Tao Ke Noi. Familiar kah dengan brand ini? Kalau suka sama snack rumput laut, pasti anda mengetahuinya. Pada awalnya saya mengira kalau produk ini adalah produk asal Jepang, tapi ternyata saya salah. Produk Tao Ke Noi adalah produk asal Thailand, hasil ciptaan Aithipat Kulapongvanich.

Oke kita skip dulu pembicaraan soal produknya, sekarang kita membahas film The Billionare yang mengisahkan kisah hidup Aithipat. Aithipat (Pachara Chirathiwat) diwaktu berumur 16 tahun adalah seorang anak muda yang freak sekali dengan game online sampai di waktu belajar komputer di lab sekolah pun, ia tetap bermain game online. Dan dari game online lah Aithipat mulai mendapatkan penghasilannya sendiri. Dari hasil bermain gamenya itu, ia bisa membeli mobil dan segala yang diinginkan olehnya. Kecintaannya akan game, membuat ia menjadi lupa akan tugasnya sebagai seorang pelajar. Suatu saat Aithipat memiliki semangat untuk berdagang. Dan ia pun memulai usahanya dengan berjualan DVD player murah. Namun ketika mau memulainya ia dibohongi oleh sang penjual tangan pertama, karena ternyata DVD player yang ia beli banyak tersebut mudah sekali rusak. Aithipat masih bimbang kemana ia ingin melanjutkan studinya. Sang ayah menyuruh Aithipat untuk segera melanjutkan studi, tapi karena ia melihat anaknya begitu malas dalam belajar maka ia merekomendasikan tempat yang biasa - biasa saja. Tapi si Ibu mendorong sang ayah agar memperbolehkan anaknya kuliah di tempat yang diinginkan. Bagaimanakah kisah dari orang termuda dan sukses di Thailand ini? Mendingan kalian saksikan sendiri saja.

The Billionare dibintangi oleh Pashorn Jiratiwat dan Walanlak Kumsuwan. Pashorn sebelumnya pernah bermain di Suckseed sebagai Koong bersama Natasha Nauljam. Sutradaranya sendiri adalah Songyos Sugmakanan. Songyos pernah menyutradarai film Hormones dan salah satu segmen / cerita di Phobia 2.

Secara keseluruhan film Thailand ini saya bilang bagus. Ceritanya sangat menarik untuk diikuti, alurnya sendiri naik turun sehingga membuat emosi orang yang menonton pun terbawa. Saya pun sempat menitikan air mata, ketika melihat suatu scene antara Aithipat bersama sang paman. Akting dari Pashorn pun saya bilang jauh lebih baik, daripada waktu ia berakting untuk Suckseed. Walanlak begitu cantik, aktingnya lumayan bagus. Kalau penyutradraan Songyos saya bila oke tenan, beberapa shot ia ambil dengan begitu indah. Saya sendiri kagum dengan cara Songyos menyutradrai film ini. Intinya film ini itu bagus, sangat inspiratif dan bagus buat anak muda yang ingin mulai berusaha / menjadi seorang Entrepeneur. Dan sangat touchy seperti yang saya bilang diatas, bahwa beberapa scene di film ini akan membuat anda sedih / menitikan air mata. It a must see movie, jangan lewatkan.


Cast : Pachara Chirathiwat,Walanlak Kumsuwan
Director : Songyos Sugmakanan

Rating :
4/5

Movie Still :
























Minggu, 27 November 2011

Review : Arisan! 2 (2011)


Teman datang dan pergi, tapi teman - teman sejati selalu di hati - Mei Mei. 8 tahun telah berlalu kini Mei Mei (Cut Mini), Sakti (Tora Sudiro), Nino (Surya Saputra), Andien (Aida Nurmala) dan Lita (Rachel Maryam) memiliki kehidupan yang benar - benar baru. MeiMei sedang sakit dan ia melakukan pemulihan penyakitnya di Gili ditemani Talu anak dari Lita. Sakti sekarang sudah tidak berhubungan dengan Nino dan kini ia menjadi seorang arsitek terkenal. Nino memang sudah tidak berhubungan dengan Sakti, tapi ia kini memiliki hubungan khusus dengan seorang anak muda bernama Okta (Rio Dewanto). Andien kini tinggal sendiri, suaminya telah meninggal dunia. Kalau Lita, jadi politikus yang berjuang untuk membela kaum 'khusus'.

Sudah lama sekali yah kita tidak melihat kisah persahabatan mereka. Di tahun 2003 teh Nia Dinata memulai kisahnya dalam film layar lebar, yang kemudian beberapa tahun kemudian hadirlah Arisan series. Arisan 2! masih dibintangi oleh  Cut Mini, Rachel Maryam, Aida Nurmala, Surya Saputra dan Tora Sudiro. Tidak hanya mereka di sekuelnya ini hadir beberapa nama lainnya, ada Adinia Wirasti, Sarah Sechan, Atiqah Hasiholan, Pong Harjatmo, Edward Gunawan dan Rio Dewanto.

Menonton film ini mungkin akan membawa kita kedalam masa kangen - kangennya lihat mereka di film pertamanya. Karakter mereka mulai dicoba untuk ditampilkan lebih dalam. Kisahnya sendiri menurut saya jauh lebih menarik yang sekuel ini dibandingkan kisah yang dihadirkan di film pertamanya.Untuk akting sendiri saya agak sulit menilainya karena beberapa cast yang sudah main di film pertamanya, terlihat sangat sudah klop dengan karakternya masing - masing. Yang perlu diacungi jempol mungkin aktingnya Rio Dewanto. Rio yang biasanya terlihat macho dan cool di beberapa ftv / filmnya, karakternya disini sangat berubah dengan drastis. Disini ia berperan sebagai Okta kekasih barunya Nino. Taulah sendiri akan seperti apa seharusnya jika menjadi pacarnya seorang Nino, pokoknya dia terlihat total dalam film ini. Pemilihan setnya sendiri menurut saya sangat indah. Jadi mendukung banget udah ceritanya asik, aktingnya bolehlah dan settingnya indah. Untuk penyutradraan sendiri tidak usah diragukan lagi kali yah, udah tau sendiri bagaimana seorang teh Nia Dinata dalam menyutradrai sebuah film. Teh Nia membawa film ini mengalir dengan begitu santai dari awal hingga akhir, sayapun yang menontonnya menjadi tidak merasa terganggu.

Kalau bahas filmnya teh Nia, jangan lupa untuk membahas soundtracknya. Soundtracknya sendiri, menurut saya sangat catchy dan enak didengar selain itu pun terasa menyatu dengan setiap scene yang ada di film ini. Beberapa band / indie yang mengisi soundtrack di film ini, sebut saja : Sore, Santa Monica, Tantrum, D'Jenks dan beberapa musisi lainnya. Rio Dewanto pun mengisi soundtrack untuk film ini juga loh. Mungkin perdana bisa dengerin Rio nyanyi, karena sebelumnya mungkin tidak pernah terpublish. Rio sendiri membawakan lagu berjudul Cinta Terlarang, yang juga menjadi soundtrack untuk film Arisan yang pertama. Lagu ini dulu dibawakan oleh Ren Tobing, kini musiknya diubah oleh Aghi Narottama.

Cast : Cut Mini, Aida Nurmala, Rachel Maryam, Tora Sudiro, Surya Saputra, Rio Dewanto
Director : Nia Dinata

Rating :
3.5/5


Movie Still :
























Selasa, 22 November 2011

Review : INAFFF : The Raid (2012) (Closing Movie)



Gareth Evans kembali lagi dengan project film terbarunya berjudul The Raid. Film ini jauh berbeda dengan Merantau, his first feature film. Film ini masih dibintangi oleh Iko Uwais yang juga telah bekerja sama dengan Gareth di Merantau. Selain itu juga dibintangi oleh Donny Alamsyah, Ray Sahetapy, Joe Taslim, Pierre Gruno dan Yayan Ruhian. Masih asing dengan nama Yayan Ruhian?  Dia sebelumnya juga menjadi cast di Merantau, selain jadi cast di The Raid ia juga bertindak sebagai koreografer untuk setiap scene martial arts di film ini.

Premis dari film ini sangat mudah sekali untuk diikuti, sekelompok polisi yang beranggotakan Rama (Iko Uwais), Jaka (Joe Taslim) dan beberapa orang lainnya ini  ingin memberantas kejahatan seorang bandar besar narkoba bernama Tama (Ray Sahetapy). Tama untuk melakukan kegiatannya ini, mendiami sebuah gedung yang ternyata juga berfungsi sebagai apartemen. Tama dalam mengerjakan setiap aksinya tidak pernah sendiri, disebelahnya selalu ada sosok Andi (Donny Alamsyah) dan Mad Dog (Yayan Ruhian). Kehadiran para anggota polisi ini makin terancam, karena Tama mengerahkan semua warga yang bertempat tinggal di apartemen tersebut untuk dapat menghabisi semua anggota polisi yang ada. Sebagai jaminannya, Tama memberikan kesempatan kepada setiap warga untuk dapat bertempat tinggal di apartemen itu tanpa membayar sepeser pun.  

The Raid film yang membuat saya berdecak kagum,  melihat setiap scene yang dihidangkan seorang Gareth Evans membuat saya bangga sebagai orang Indonesia.  Nyatanya, saya belum pernah lihat film action hasil anak bangsa sendiri seperti ini.  Mengetahui film ini memenangkan penghargaan di Midnight Madness Toronto Film Festival 2011, membuat kebangaan saya semakin bertambah.  Adegan action di film ini sangat brutal dan berlangsung dengan sangat cepat .  Waktu lihat trailernya sendiri sudah keren, tapi nyatanya filmnya sendiri jauh lebih keren dari apa yang saya penah bayangkan sebelumnya.

Dari segi akting tidak perlu dinilai, Iko Uwais sudah dapat memerankan Rama dengan baik begitu pula dengan Joe Taslim yang berprofesi sebagai atlet ini pun, aktingnya juga lumayan memuaskan. Namun nyatanya kemampuan Martial Arts yang mereka miliki, menutupi bagaimana mereka berakting di film ini. Dari segi akting, yang benar - benar 'dapet' adalah Ray Sahetapy, aktor kawakan ini terasa begitu mendalami karakternya sebagai seorang 'bandar'.

Soundtrack yang dibuat oleh Fajar Yuskemal dan Aria Prayogi hasilnya sangat bagus. Duo ini berhasil membuat scoring yang begitu apik dan mewakili setiap scene yang ada di film ini.

Keberuntungan yang saya peroleh bukan hanya dapat menyaksikan film ini pertama kali, tapi juga saya bisa menyaksikan film ini dalam versi uncensensored. The Raid yang awalnya akan tayang regular di bulan Januari 2012 harus mundur ke bulan April 2012, walaupun mundur saya rasa teman – teman harus antusias karena filmnya sendiri memang sangat layak untuk ditunggu.

Kalau disuruh pilih INAFFF atau NOT INAFFF kah untuk The Raid, saya akan dengan sangat setuju bilang bahwa The Raid benar – benar INAFFF banget.  So, terakhir saya mau mengucapkan terima kasih kembali kepada INAFFF (Indonesian International Fantastic Film Festival), yang telah memberi kesempatan kepada  saya untuk dapat menyaksikan Opening Film dan Closing Film.  

Cast : Iko Uwais, Joe Taslim, Donny Alamsyah, Yayan Ruhian, Ray Sahetapy
Director : Gareth Evans

Rating :
4.5/5

Movie Still :






















Sabtu, 19 November 2011

Review : INAFFF 2011 : Immortals (2011) (Opening Movie)



Fight for honor, fight for your children, fight for your future, fight for immortality! - Theseus. Mitologi Yunani adalah sesuatu yang menarik untuk diangkat ke dunia film. Banyak sekali film – film Hollywood yang mengambil tema ini. Sebut saja Clash Of The Titans atau Percy Jackson : A Lightning Thief. Memang sih Percy Jackson bukan pure mengambil tema ini, tapi adalah sedikit  unsur dari mitologi Yunani yang diambil. Di tahun 2011 ini hadir film berjudul Immortals yang berdasarkan pada Mitologi Yunani. Immortals adalah film arahan Tarsem Singh, yang sebelumnya pernah menyutradarai The Fall dan The Cell.  Film ini dibintangi oleh Henry Cavill yang sudah dipastikan akan bermain di Superman Man Of Steel. Selain itu juga ada Freida Pinto, Luke Evans, Kellan Lutz dan Mickey Rourke.  Melihat dari jajaran Cast dan Sutradaranya sendiri, sudah membuat saya bersemangat untuk menonton film ini dan yakin jika film ini akan mengagumkan.

Diceritakan tentang seorang anak muda bernama Theseus (Henry Cavill). Theseus adalah anak muda yang tangguh dan tidak mengenal namanya ketakutan. Theseus lahir dari seorang ibu tanpa ayah. Desa dimana ia tinggal bersama sang ibu, diserang oleh pasukannya Raja Hyperion (Mickey Rourke).  Penyerangan itu menyebabkan sang ibu mati ditangan Hyperion sendiri. Theseus yang melihat hal itu, langsung berusaha menyerang Hyperion. Namun karena jumlah pasukkan Hyperion yang banyak, akhirnya Theseus dijadikan sebagai budak oleh Hyperion. Dalam masa dijadikan sebagai budak oleh Hyperion ia bertemu dengan Stavros (Stephen Dorff) dan Phaedra (Freida Pinto).  Phedra adalah satu dari  empat peramal perawan. Phaedra mengajak 3 saudarinya, bermaksud untuk mengelabui identitas aslinya sebagai seorang peramal.  Oh iya dari peramal perawan harus masih dalam keadaan perawan, kalau tidak maka kemampuan penglihatan yang mereka miliki akan hilang.  Dari keempat peramal itu hanya Phaedra lah yang mengetahui dimana letak Busur Epirus,  Busur yang begitu dicari – cari oleh Raja Hyperion. Busur  buatan Dewa Ares ini memiliki kemampuan yang luar biasa, anak panahnya dapat menembus apapun.  Phaedra bersama Theseus dan Stavros memiliki rencana terhadap Raja  Hyperion. Namun berhasilkah rencana tersebut dijalankan? Akankah Hyperion menemukan Busur Epirus?? Silakan anda saksikan sendiri.  

Untuk CGInya sendiri memang gila, megah banget ngeliatnya. Namun ada beberapa adegan yang kelihatannya jelek hasilnya. Padahal dengan embel – embel from producer 300, udah berharap CGI akan begitu sempurna. Satu hal yang begitu sangat menganggu saya ketika melihat film ini adalah, alur cerita dari film ini yang terkesannya malah terburu – buru. Jadi ketika ingin menuju klimaks malah jadi down.

Yang gw suka dari film ini, adalah salah satu adegan di akhir yang menggunakan efek slow motion dan itu sangat gw acungi jempol. The best banget deh scene itu. Henry Cavill ternyata cocok sebagai seorang prajurit, ia terlihat begitu mendalami karakternya dalam film ini. Freida Pinto terlihat lebih cantik di film ini dengan pakaian ala Timur Tengah, kulitnya terlihat lebih eksotis. Untuk aktingnya sendiri, saya bilang biasa lah gak jauh beda ketika ia berduet bersama James Franco di Rise Of The Planet Of The Apes.  Yang paling lucu adalah si Kellan Lutz, yang lebih terkenal perannya di Twilight Saga. Entah kenapa ngeliat si Kellan di film ini tuh seperti sok-sok kelihatan cool dan jantan, tapi bedak dempulannya gilaaa tebel banget. Dan ketika Kellan hadir di layar, satu audi pada ketawa – ketawa kecil.  Overall filmnya sih cukup menghibur, adegan actionnya pun tidak terlalu mengecewakan.  Tapi untuk INAFFF atau NOT INAFFF sendiri untuk Immortals, saya bisa katakan NOT INAFFF. 

Cast : Henry Cavill, Freida Pinto, Kellan Lutz, Mickey Rourke
Director : Tarsem Singh

Rating :
3/5

Movie Still :























Sabtu, 12 November 2011

Event : Opening Night INAFFF 2011 (Indonesia International Fantastic Film Festival)


Indonesia International Fantastic Film Festival kembali lagi. Ini tahun kelima,
festival film ini diadakan. Di setiap tahunnya INAFFF akan membawa film - film bergenre Horror, Thriller, Sci-fi dan Fantasy. Kemarin Jumat, 11 November 2011 diadakan Opening Night dari INAFFF. Dan dalam Opening Night dibuka dengan speech dari Mbak Trisiska Putri selaku Festival Manager dari INAFFF tahun ini. Panitia pun membagikan beberapa hadiah dari para sponsor. Pada saat speech, Mba Trisiska pun mengucapkan ia terima kasih atas kehadiran sigilahorror yang jauh - jauh dari Bali untuk dapat hadir di INAFFF. Sigilahorror adalah satu dari 15 Blogger yang mendapatkan kesempatan hadir di Opening dan Closing, yang mana salah satunya adalah saya. Setelah Mba Trisiska Putri speech sekarang giliran Festival Directornya yang speech, Sly (Rusli Eddy). Sly diawal speech merasa cukup gugup, padahal kata dirinya ini tahun ke - 5 ia speech di depan para viewers opening night. Ia berterima kasih kepada para sponsor, orang - orang dari embassy dan media partner.


Seperti biasa Sly mengenalkan film yang akan kita saksikan dan kebetulan untuk openingnya adalah Immortals. Immortals adalah film karya Tarsem Singh yang juga pernah menyutradarai The Cell dan The Fall. The Fall juga sempat menjadi bagian dari festival film ini ditahun 2007, yang pada saat itu INAFFF masih bernama Screamfest Indo. Selesai Sly speech, saatnya untuk menyaksikan filmnya. Sebelum film dimulai ada 3 buah trailer film Indonesia yang pastinya sudah ditunggu - tunggu. Ada trailer onimbus Hi5teria yang salah satu sutradaranya Upi Avianto, terus ada trailer Modus Anomali karya Joko Anwar dan diakhiri trailer terbaru dari The Raid karya Gareth Evans, yang juga akan menjadi Closing film di INAFFF  tahun ini.


Opening Night INAFFF juga dihadiri oleh beberapa artis / public figure diantaranya : Joko Anwar, Alex Abbad, Rio Dewanto, Vera Lasut, Gareth Evans, Iko Uwais, Joe Taslim, Upi Avianto, Affandi Abdul Rachman dan Marissa Anita.

Ayo saksikan film - film bergenre thriller, horror, sci-fi dan fantasy hanya di INAFFF. Di tahun ini ada beberapa film yang sudah dipastikan terbaik, karena mendapatkan penghargaan di beberapa film festival. Sebut saja Hobo With A Shotgun, Kill List, The Yellow Sea dan masih banyak lagi.

Thanks untuk INAFFF yang telah memberikan kesempatan untuk saya dapat hadir di Opening dan Closing INAFFF tahun ini.

It is time to screammmmmmmmmmmmm...

*Photo courtesy : BolehCinema

Review : The Change Up (2011)


Don't back that thing up into me. - Mitch Planko Bertukar kepribadian dalam dunia kenyataan mungkin gak pernah / jarang didengar. Tapi di film Hollywood, hal ini sudah sering dijadikan bahan cerita untuk beberapa film drama-comedy. Sebut saja Freaky Friday yang dibintangi oleh Jamie Lee Curtis dan Lindsay Lohan. Di film ini, diceritakan Anna Coleman (Lindsay Lohan) yang bertukar kepribadian dengan sang ibu Tess Coleman (Jamie Lee Curtis). Tapi sudahlah lupakan Freaky Friday dan sekarang saatnya kita membicarakan The Change-Up. The Change Up, film komedi drama terbaru yang dimana Jason Bateman dan Ryan Reynolds menjadi peran utama. Mungkin ini film komedi kedua untuk Bateman ditahun ini, setelah sebelumnya ia membintangi Horrible Bosses bersama Jason Sudekis dan Jennifer Anniston. Sedangkan Reynolds, inilah film terbarunya setelah ia memerankan si superhero hijau, yang mana ia juga dipasangkan bersama si cantik Blake Lively.

The Change-Up tidak hanya dibintangi oleh Jason Bateman dan Ryan Reynolds, tapi masih ada Leslie Mann, Alan Arkin dan juga Olivia Wilde. Dan sutradara yang menangani film ini adalah David Dobkin. Dobkin sebelumnya menyutradarai Fred Claus dan Wedding Crashers.

Diceritakan 2 orang teman Mitch Planko (Ryan Reynolds) dan Dave Lockwood (Jason Bateman), Dave dan Mitch memiliki profesi yang berbeda. Dave Lockwood adalah seorang arsitek yang bekerja untuk sebuah perusahaan, sedangkan Mitch merupakan aktor untuk light porno.Nah satu hari mereka pergi ke sebuah bar untuk minum. Dan dalam keadaan mabuk mereka pergi ke sebuah air mancur, disana mereka buang air kecil bersamaan.Dan tanpa sadar mereka masing - masing, mengeluarkan komen kalau menginginkan kehidupan yang berbeda. Dave menginginkan kehidupan yang dimiliki Mitch. Sedangkan Mitch ingin memiliki kehidupan dari Dave. Keesokan harinya ternyata mereka sudah berada di tempat yang berbeda. Jiwa Mitch sudah berada di tubuhnya Dave dan Dave berada di tubuh Mitch. Mereka begitu panik mengetahui ini, namun akankah mereka menemukan jalan untuk jiwa mereka kembali ke tubuh mereka masing - masing?

Film ini buat saya sangat jelek. Hampir tidak menyukai setiaap unsur yang coba dihadirkan kedalam film drama - comedy ini. Dari cerita sudah sangat standard, hampir memiliki kesamaan dengan beberapa film yang sudah ada. Akting Bateman biasa aja, gak ada sesuatu yang spesial. Reynolds, hmmm... gak penting di film ini. Olivia Wilde malah yang mungkin buat film ini jadi menarik. Walaupun tidak terlalu baik, Olivia jadi daya pikat. Ada beberapa scene yang menurut saya begitu garing dan membuat saya tidak ketawa, selain itu ada adegan - adegan yang menggunakan special effect namun begitu terlihat itu hasil dari 'kecanggihan komputer'. Paling suka ketika lagu Coldplay yang Every Teardrop Is Waterfall berkumandang dan dijadikan background music untuk scene-nya Reynolds.
Horrible Bosses film Bateman sebelumnya terlihat jauh lebih baik dibandingkan yang ini.

Cast : Jason Bateman, Ryan Reynolds, Olivia Wilde
Director : David Dobkin

Rating :
1.5/5


Movie Still :

Selasa, 01 November 2011

Review : Crazy, Stupid, Love (2011)


When I told you when I had to work late? I really went to go see the new Twilight movie by myself, and it was so bad. - Emily. Kadang suatu hubungan pacaran/pernikahan yang sudah berjalan lama, bisa berujung kepada perpisahan. Tapi biasanya kalau masih hubungan pacaran terus pisah masih biasa, tapi kadang melihat yang sudah menikah terus memutuskan untuk berpisah sangat begitu disayangkan. Yah alasannya kadang klise, mungkin karena sudah bosan lama - lama berhubungan terus akhirnya selingkuh dengan orang lain. Itulah yang terjadi dengan pasangan Cal Weaver (Steve Carell) dengan sang istri Emily (Julianne Moore). Emily disuatu malam, menceritakan kepada Cal kalau ia menginginkan perceraian. Cal yang mendengar hal itu sontak kaget. Dan setelah itupun Emily mengakui, kalau ia sebelumnya pernah berhubungan intim dengan rekan kerjanya David Linhagen (Kevin Bacon). Sejak saat itu, Cal memutuskan untuk segera pindah dari rumah biasa tempat ia tinggal bersama Emily dan kedua anaknyaddan memilih untuk bertempat tinggal di sebuah apartemen yang terlihat biasa saja.

Cal yang biasanya ceria berubah menjadi galau, kalau kata anak jaman sekarang. Ia tidak pernah memikirkan kenapa istrinya, begitu lebih tertarik dengan seornag David Linhagen. Kegalauannya tersebut akhirnya berubah setelah ia bertemu dengan Jacob Palmer (Ryan Gosling). Jacob lebih dikenal sebagai cowok playboy, yang kerap berhasil kencan dengan setiap wanita. So, Jacob memberikan ilmu kepada Cal bagaimana mentreat wanita dengan baik.

Kisah Cal dan Emily hadir dalam sebuah film yang disutradarai Glenn Ficarra dan John Requa; Crazy, Stupid, Love. Glenn dan John sebelumnya telah bekerja sama di tahun 2009 dalam I Love You Phillip Morris. Film ini dibintangi oleh aktor dan aktris yang memang top / sedang berada di "masanya". Sebut saja Steve Carell, Julianne Moore, Kevin Bacon, Ryan Gosling dan Emma Stone.

Bisa dibilang Crazy, Stupid, Love bukanlah baru dari segi ceritanya. Mungkin sudah pernah ada film bergenre Romantic-Comedy yang memiliki cerita seperti yang ada di film ini. Tapi mungkin yang sedikit berbeda dan menjadi penentu film ini layak untuk disaksikan, adalah keseriusan dari setiap pemain yang begitu terlihat jelas di film ini. Emma Stone begitu wow di film ini. Ia bukan seperti Emma yang sebelumnya kita lihat di Easy A. Chemistry diantara Emma dan Gosling terlihat terbangun dengan baik, sehingga dari setiap scene yang menampilkan mereka berdua terlihat mengalir dengan baik. Masih ingat dengan Jonah Bobo? anak kecil yang ada di film Zathura bersama sang kakak? kalau iya, di film ini ia berusaha tampil dengan baik. Carell yang biasanya terlihat bercanda terus di setiap filmnya, karakternya di film ini jauh lebih kalem dan lebih soft menurut saya. Dan Carell pun berhasil memerankan karakternya. Glenn dan John sebagai sutradara sudah sangat baik, mereka berhasil mengcapture setiap moment dengan begitu sempurna.

Cast : Steve Carell, Julianne Moore, Emma Stone, Ryan Gosling, Kevin Bacon
Director : Glenn Ficara, John Requa

Rating :
3.5/5

Movie Still :