Jumat, 28 Oktober 2011

Review : Cars 2 (2011)

 
Do not try the free pistachio ice cream! It done turn! - Mater. Setelah sukses ditahun lalu dengan Toy Story 3, tidak salahnya bagi Pixar Animation Studios untuk kembali membawa karyanya yang begitu juga disukai penonton; Cars. Kali ini dibuatlah sekuelnya berjudul Cars 2. Dari jajaran pengisi suaranya mungkin masih sama dengan yang pertama, yang terlihat berbeda mungkin di posisi sutradara. Untuk film pertamanya John Lasseter ditemani Joe Ranft. Sedangkan untuk film keduanya ini a.k.a sekuelnya, John Lasseter duduk di kursi sutradara bersama Brad Lewis.

Dilihat trailernya film ini jauh lebih menarik daripada film pertamanya. Memang nyatanya film kedua ini lebih seru dan lot more action. Diceritakan tentang Lightning Mcqueen (Owen Wilson), yang sudah empat kali memenangkan Piston Cup diberikan tantangan oleh sebuah mobil formula asal Italia bernama Francesco Bernoulli (John Turturro), untuk dapat ikut kembali dalam kejuaraan World Grand Prix. Mcqueen mengiyakan dan begitu semangat untuk mengalahkan Francesco. Beberapa temannya di Radiator Springs begitu bersemangat untuk membantu Mcqueen. Mater (Larry The Cable Guy) si mobil penderek yang akhirnya dijadikan mates atau teman oleh Lightning Mcqueen di World Grand Prix. Mater begitu senang diajak oleh Mcqueen. Namun tanpa mereka sadari sebenarnya World Grand Prix adalah salah satu ajang race, yang terdapat mata - mata / agen rahasia dimana - mana. Hal ini terjadi karena ada sesuatu dibalik penyelengaraan ajang ini.

Pixar sepertinya berusaha untuk menyajikan tontonan yang begitu menarik dan juga memuaskan penontonnya. Film Cars yang kedua ini, bisa dikatakan film Pixar yang totally memang seru banget dari segi drama dapet, segi action juga dapet banget. Walaupun mungkin sebenarnya beberapa adegan di film animasi ini, ada yang nyomot dari film yang satu dan film yang lain. Dari segi grafis film ini sangat begitu detail menurut saya. Beberapa adegan dibuat seperti keadaan realnya. Seperti ketika mobil tercebur, air di film ini seperti air dalam kenyataan. Pokoknya ketika anda melihat film ini ada suatu kepuasaan yang anda tidak pernah dapatkan sebelumnya. Sayangnya saya menyaksikan film ini dalam format 2D, kalau saja mungkin saya menyaksikan dalam 3D pasti jauh lebih menyenangkan.

Oh iya, sampai lupa di setiap film pixar pastinya ada film animasi berdurasi pendek. Nah kali ini film pendeknya adalah Toy Story : Hawaii Vacation. Udah tahu sendiri bagaimana karakter Toy Story tingkah lakunya? Jadi akan berasa terhibur sekali ketika anda menyaksikan film ini.

Cast (Voicer) : Owen Wilson, Larry The Cable Guy, Emily Mortimer, Michael Caine, John Turturro
Director : John Lasseter, Brad Lewis

Rating :
3/5

Movie Still :





Minggu, 23 Oktober 2011

Review : Sang Penari (2011)


Sus, ronggeng ini duniaku, wujud darma bakti ku untuk Dukuh Paruk - Srintil. Novel karya Ahmad Tohari berjudul Ronggeng Dukuh Paruk diadaptasi menjadi sebuah film berjudul Sang Penari. Skenario filmnya sendiri dari film ini ditangani oleh beberapa orang yang memang telah handal di bidangnya, salah satunya adalah Salman Aristo. Selain mas Salman, turut ambil bagian Ifa Isfansyah yang juga sebagai sutradara dan Shanty Harmyn. Yang bermain di film ini pun sudah tidak perlu diragukan kembali, beberapa bintang senior juga turut ambil bagian dalam film ini. Sebut saja Slamet Rahardjo, Dewi Irawan dan Tio Pakusadewo. Yang muda pun juga lumayan dikenal dalam beberapa peran di film - film mereka sebelumnya seperti Lukman Sardi, Oka Antara, Prisia Nasution dan Happy Salma.

Menceritakan tentang kehidupan Desa Dukuh Paruk yang memiliki seorang penari ronggeng nan cantik dan begitu terkenal pada eranya. Namun penari ronggeng itu,  meninggal karena ia keracunan setelah menikmati tempe bongkrek buatan orang tua Srintil (Prisia Nasution). Tidak hanya si penari Ronggeng tapi hampir beberapa warga yang memakan tempe bongkrek pun meninggal. Di tahun 1960an Srintil sudah cukup dewasa dan ia ingin sekali menjadi penari ronggeng untuk Dukuh Paruk. Srintil yakin ia bisa menari. Di awal percobaan ia mengalami kegagalan. Rasus (Oka Antara), temannya sejak kecil kemudian memberikan keris mini kepada Srintil. Keris mini tersebut sebagai tanda bahwa seseorang dapat menjadi penari ronggeng untuk desa Dukuh Paruk. Beberapa orang mempercayai kalau Srintil memang dipilih jadi ronggeng. Srintil menjalani kehidupan barunya sebagai seorang penari ronggeng, ia menari kesana kemari. Rasus yang mencintai Srintil menginginkan Srintil untuk menghentikan profesinya tersebut. Namun Srintil tidak mengetahui, kalau tugas seorang penari ronggeng tidak hanya menari namun menjadi milik semua "warga" Dukuh Paruk.Namun akankah Srintil mendengarkan nasihat Rasus atau tetap menjadi seorang penari ronggeng?

Suka banget dengan kisah cinta Rasus dan Srintil ini. Sayangnya saya belum membaca novelnya, jadi belum membandingkan / mengatakan apakah cerita yang di film sudah sama / berkurang dari novelnya sendiri. Baru liat Happy Salma menari  ronggeng dan bisa dibilang cara ia menari tuh bagus, sama seperti apa yang dilakukan oleh Prisia Nasution. Pia Nasution begitu berubah penampilannya, tidak seperti di beberapa FTV yang pernah ia bintangi. Ia begitu mendalami karakternya dengan baik sebagai seorang penari ronggeng. Chemistry diantara Pia dan Oka Antara untuk sepasang sekasih dapet banget. Setting yang digunakan sebagai desa Dukuh Paruk, bisa dibilang bagus. Dapet banget suasana tahun 60annya. Tata musik dari film ini pun super duper asik didenger, berasa nyatu aja dengan cerita dan suasana dari setiap scene yang ada. Untuk musiknya sendiri ditangani oleh pasanagan suami istri, Titi dan Aksan Sjuman.

Mungkin buat beberapa orang yang sudah menyaksikan film ini, menanyakan maksud dari ending yang dihadirkan di film ini. Ada seorang teman saya beranggapan kalau endingnya sesuai dengan pemikirannya maka akan terlihat menurun, ia malah lebih berharap,jika Rasus menunjukan bagaimana perjuangannya untuk mendapatkan Srintil. Tapi itu semua kembali ke aspirasi masing - masing. Intinya Sang Penari, film indonesia di tahun ini yang sangat worth it untuk disaksikan.

Cast : Prisia Nasution, Oka Antara, Lukman Sardi, Slamet Rahardjo
Director : Ifa Isfansyah

Rating :
3.5/5



Movie Still :




































Kamis, 13 Oktober 2011

Review : Tree Of Life (2011)


Toscanini once recorded a piece sixty five times. You know what he said when he finished? "It could be better." Think about it. - Mr. O' Brien. Terrance Mallick dengan Tree Of Life-nya memang sudah ditunggu - tunggu. Termasuk salah satunya yaitu saya. Apalagi setelah mengetahui film ini menjadi pemenang Palme d'or di Cannes Film Festival, menjadi semangat lagi bagi saya untuk menyaksikkannya. Beberapa orang yang sudah melihat film hasil karya Mallick ini, mengatakan jika filmnya membuat kantuk, kemudian ada juga yang mengatakan bahwa film ini seperti sebuah tayang National Geographic / Discovery Channel. Kalau membuat ngantuk? hmmm, bagi saya sih gak. Tapi kalau bisa dikatakan masih sebagian orang saja, yang bisa menikmati film - film yang dikategorikan Arthouse seperti Tree Of Life.

 Ketika film ini mulai, dibuka dengan kata - kata yang diambil dari Alkitab yaitu dari Ayub 38 : 4. Selanjutnya muncul kesedihan dari Mrs O'Brien (Jessica Chastain), setelah mengetahui anaknya yang baru berumur 19 Tahun meninggal dunia. Hal itu juga dirasakan oleh Mr. O'Brien (Brad Pitt) sebagai ayah. Kemudian muncul pertanyaan dari Mrs O Brien tentang dimana Tuhan, ketika mereka sedang mengalami masalah itu.

Di kejadian berikutnya, anda akan dibawa oleh Mallick tentang bagaimana keluarga ini sebenarnya. Digambarkan seorang Mrs O'Brien, sebagai seorang ibu yang begitu menyayangi ketiga anaknya, juga sensitif. Berbanding terbalik dengan seorang Mr O'Brien, yang berusaha tegas terhadap anak - anaknya, ia menginginkan anak - anaknya sesuai dengan apa yang diinginkan Mr O'Brien. Dan diceritakan juga ada kerengangan / hubungan yang tidak harmonis antara Mr O'Brien dengan anaknya yang paling tua Jack.

Jack yang sudah Tua (Sean Penn) begitu menyesal bahwa selama ini ia tidak pernah memiliki hubungan yang harmonis dengan ayahnya. Namun pada akhirnya ia dapat mengulang hal tersebut ketika ia bertemu bersama sang ayah, ibu beserta kedua adiknya diwaktu akhir zaman.

Kehadiran dinosaurus di salah satu scene di film ini pun, menimbulkan pertanyaan dikepala saya. Salah satu Dinosaurus ada yang menginjak kepala Dinosaurus yang sedang berisitirahat. Tapi bukannya diserang, Dinosaurus tersebut bertindak seperti biasa saja. Dan saya mulai mengerti bahwa sejak bumi ini diciptakan oleh Nya. Tuhan telah memberikan sifat cinta / kasih sayang terhadap setiap mahluk yang ia ciptakan.

Jadi dari awal sampai akhir anda tidak hanya diceritakan tentang kisah keluarga Brien, tapi juga anda mendapatkan suatu pesan spiritual yang mungkin tidak akan anda dapatkan ketika anda melihat film lainnya. Gambar - gambar yang dihadirkan Mallick di film ini begitu Indah dan begitu memanjakan mata. Tidak hanya itu scoring dari film ini pun begitu menyatu dengan filmnya, kombinasi yang baik antara Mallick dengan Alexandre Desplat.

Untuk penilaian secara akting sebenarnya sudah tidak usah diragukan, apalagi dilihat dari jajaran cast yang sudah main di beberapa film yang sukses di pasaran. Brad Pitt benar - benar dengan baik memerankan karakter Mr O'Brien. Terlihat seperti Pitt begitu mendalami sosok Mr O'Brien. Begitu juga dengan si cantik Jessica Chastain yang berperan sebagai istrinya. Chemistry diantara Pitt dan Chastain sebagai suami istri pun tergambar dengan baik. Sean Penn yang hadir dalam hanya beberapa scene pun terlihat total dalam memerankan karakter Jack tua. Di film ini Penn minim dialog, tapi dengan sukses ia memainkan mimik muka dan gesture tubuhnya. Mallick yang merupakan penulis naskah untuk film ini pun, membawa film ini dari awal hingga akhir sangat baik. Kesimpulannya, Tree Of Life sebuah film yang mengisahkan perjalanan bagaimana manusia diciptakan yang ternyata tidak sulit dinikmati tetapi menarik untuk diikuti.

Cast : Brad Pitt, Jessica Chastain, Sean Penn
Director : Terrance Mallick

Rating :
4/5


Movie Still :






















Rabu, 12 Oktober 2011

Review : Don't Be Afraid Of The Dark (2011)


Just because you keep denying it, does not mean it's not happening!- Kim. Rumah tua kadang identik dengan sesuatu yang menyeramkan, apalagi jika rumah tersebut sudah lama tidak dihuni. Banyak orang langsung beranggapan jika rumah itu sudah dihuni oleh mahluk astral yang bisa atau bahkan tidak bisa dilihat oleh mata. Tapi apa jadinya kalau memang dari sejak awal rumah itu berdiri sudah ada sosok yang menyeramkan, yang buat orang - orang begitu takut melihatnya. Di Blackwood Manor seorang pelukis bernama Lord Blackwood (Garry Mcdonald) membunuh penjaga rumahnya (Edwina Ritchard), untuk diambil sejumlah giginya. Sudah banyak gigi yang ia ambil yang mana sebenernya bukan untuk dirinya, tapi untuk diberikan kepada sosok - sosok misterius di bawah tanah yang telah menculik anaknya. Setelah diberikan, ternyata sosok misterius itu tidak menginginkannya, nyawa dari Mr. Blackwoodpun yang mereka inginkan.

Dimasa sekarang, hadir seorang anak perempuan bernama Sally Hurst (Bailee Madison) yang telah sampai di Rhode Island untuk tinggal bersama sang ayah Alex (Guy Pearce) dan Kim (Katie Holmes), pacar sang ayah. Mereka tinggal di rumah yang sama, yang pernah ditinggali oleh Mr. Blackwood. Pada awalnya semua berjalan dengan biasa saja, sampai akhirnya Sally pergi ke taman dan menemukan ruangan bawah tanah. Ia sempat dibawa paksa oleh penjaga rumah ini, ia melarang Sally untuk pergi ke tempat itu selain rumah. Namun pada akhirnya Sally memberitahu sang Ayah dan Kim, bahwa ada ruangan bawah tanah. Alex dan Kim yang tidak mengetahuinya, segera memiliki keputusan untuk melihatnya. Selesai melihat Alex & Kim berlalu dari ruangan itu, namun Sally mendengar seperti ada yang memanggilnya dari perapian. Keesokan hariannya karena begitu penasaran, ia membuka tempat perapian itu. Ia mulai berkomunikasi dengan sosok misterius yang pernah berbicara dengan Mr.Blackwood. Dan sejak itulah sesuatu yang tidak pernah diharapkan Sally beserta Alex dan Kim datang untuk meneror kehidupan mereka.

Film yang diproduseri oleh Guillermo Del Toro ini, sebenarnya adalah remake dari FTV horror milik ABC di tahun 1973. Don't Be Afraid Of The Dark, dibintangi oleh Guy Pearce, Katie Holmes, Bailee Madison. Inilah film terbaru dari Katie Holmes di tahun 2011, karena film terakhirnya adalah The Extra Man yang tayang tahun lalu. Troy Nixey yang bertindak sebagai sutradara untuk film ini. Inilah film feature pertama untuk Troy, karena sebelumnya ia baru menyutradarai 1 film pendek berjudul Lacthkey's Lament.

Secara keseluruhan film remake ini saya bilang flat. Entah kenapa saya tidak merasakan ketegangan ketika melihat setiap scene yang dihadirkan oleh film ini. Sebelumnya saya sudah berharap jika film ini akan bagus, apalagi setelah mengetahui Del Toro duduk sebagai produser untuk film ini. Guy Pearce bermain dengan baik di film ini, ia bisa memerankan karakter seorang ayah yang baik hati terhadap sang anak. Tapi Katie? apa yah. Kok jadi aneh yah melihat sosok Katie yang sepertinya selalu tidak siap, dalam setiap film yang ia mainkan. Seperti waktu di Romantics ia juga terlihat biasa saja, padahal filmnya sendiri  bergenre Drama, genre yang sebenarnya tidak terlalu asing untuk Holmes. Chemistry antara Pearce dan Holmes di film ini terlihat tidak terbangun dengan baik, malah tidak terlihat sebagai orang yang sedang menjalin suatu hubungan. Bailee Madison yang terakhir bergabung bersama Aniston dan Ben Stiller di Just Go With It, di film ini terlihat begitu dengan baik memainkan karakternya sebagai Sally di film ini. Untuk penyutradaraan Troy bisa dibilang tidak terlalu spesial untuk debutnya, biasa saja secara keseluruhan. Jadi jika ingin melihat sesuatu yang baru dari Bailee Madison, Guy Pearce dan Katie Holmes saksikanlah film ini.

Cast : Bailee Madison, Katie Holmes, Guy Pearce
Director : Troy Nixon

Rating :
2.5/5

Movie Still:
























Senin, 10 Oktober 2011

Review : Warrior (2011)

You had a choice, okay. You had a choice. - Tommy. Bagaimana perasaan anda ketika anda dihadapkan pada suatu kondisi, anda bertemu dengan adik/kakak anda yang sudah lama anda tidak temui dalam satu ring yang mengharuskan anda untuk saling bertarung demi mencari kemenangan?. Mungkin anda disatu sisi akan tetap bertarung namun bisa juga disatu sisi anda akan meminta adik/kakak anda untuk mengakhiri semua ini. tapi entahlah apa yang akan dipilih  Tommy Riordan dan Brendan Conlon.

Tommy Riordan (Tom Hardy) dan Brendan Conlon (Joel Edgerton) adalah sepasang adik dan kakak yang sudah lama tidak bertemu. Tommy Riordan adalah seorang mantan marinir. Sedangkan Brendan Conlon adalah seorang guru mata pelajaran Fisika. Tommy suatu berkunjung ke rumah sang ayah (Nick Nolte), untuk mengecek keadaan orang yang dikasihinya itu. Tommy melihat adanya perubahan yang terjadi, sang ayah mulai jadi orang yang taat akan agama dan telah meninggalkan kebiasaannya sebagai peminum alkohol. Sang kakak, Brendan sedang mengalami kesulitan dalam bidang finance, yaitu dalam membayar tagihan rumah. Dan untuk melewati masalah ini ia bersama sang istri; Tess (Jennifer Morrison), harus mengambil 3 pekerjaan. Tidak hanya itu, Brendan-pun berani mengambil resiko dengan apa yang akan terjadi dengan dirinya, Brendan kembali ikut dalam lomba seni bela diri campuran yang diadakan secara liar.

Tommy Riordan ikut dalam sebuah gym, disaat itu pula ia menghajar seorang petarung proffesional, Mad Dog (Erik Apple). Dan pada saat itu juga ada yang merekam kejadian Tommy menghajar Mad, kemudian ketika video ini diupload videonya menjadi popular / hits. Tommy-pun didaftarkan oleh seseorang untuk mengikuti sebuah turnamen bernama Sparta. Ia juga meminta bantuan kepada sang ayah untuk melatih dirinya. Brendan ternyata juga mengikuti ajang ini, namun Tommy tidak mengetahui jika sang kakak juga ambil bagian dalam turnamen martial arts besar ini. Brendan sebelumnya memang pernah bergabung dalam UFC (Ultimate Fighting Championship). Paddy yang mengetahui Brendan juga ikut dalam pertandinngan ini, berusaha untuk merekonsiliasikan hubungan kedua anaknya yaitu Tommy dan Brendan, namun ternyata gagal. Setiap lawan berhasil dikalahkan oleh Brendan dan Tommy, yang pada akhirnya mereka dipertemukan bersama dalam satu ring. Namun apakah yang akan terjadi selanjutnya, akankah mereka masih memiliki rasa dendam atau saling memaafkan dan mengakhiri pertandingan ini? Mungkin sebaiknya  anda menyaksikan sendiri, karena tidak seru jika semua bagian yang ada di film ini saya ceritakan semua.

Film yang dibintangi oleh Tom Hardy dan Joel Edgerton ini membuat saya mengerti pentingnya hubungan persaudaraan entah itu dengan teman atau dengan adik dan kakak. Untuk Tom Hardy yang sebelumnya bermain di Inception bersama Leonardo Dicaprio, di film ini menurut saya aktingnya sangat total. Ia berhasil menggambarkan sosok Tommy Riordan yang penuh amarah terhadap sosok sang kakak. Tidak hanya Tom, Joel pun saya bilang ber-akting dengan baik untuk film ini. Untuk cerita banyak yang bilang jika premisnya memiliki kesamaan dengan film The Fighter. Namun karena gw sendiri belum melihat film The Fighter, jadi belum bisa bilang film ini klop sama dengan The Fighter. Terakhir saya mungkin mau berterimakasih untuk Gavin O'Connor sang sutradara yang telah berhasil mengambil shot setiap scene dengan indah dan berhasil membuat emosi saya bermain ketika melihatnya. Jadi jika dibilang film ini akan memperoleh nominasi Oscar atau Golden Globes, saya dengan yakin pasti Warrior akan mendapatkannya. Dan film ini sangat - sangat saya rekomendasikan untuk segera anda saksikan.


Cast : Tom Hardy, Joel Edgerton, Nick Nolte
Director : Gavin O'Connor

Rating :
4.5/5

Movie Still :









Sabtu, 08 Oktober 2011

Review : The Hangover Part II (2011)

I am a nurse, just not registered. - Alan. Para anggota Wolfpack Stu (Ed Helms), Phil (Bradley Cooper), Alan (Zach Galifianakis) dan Doug (Justin Bartha) datang kembali. Kali ini pastinya dengan setting yang sedikit berbeda namun dengan plot yang masih sama dengan film sebelumnya. Diceritakan tentang sosok Stu yang akhirnya menemukan jodohnya untuk menikah dan mengajak beberapa anggota dari wolfpack, untuk merayakan pernikahannya di Thailand. Stu tidak mengajak Alan pada awalnya, karena takut terjadi hal - hal yang sebenarnya tidak begitu diinginkan terjadi seperti waktu mereka pergi ke Las Vegas, 2 tahun yang lalu. Namun setelah bujukan Doug akhirnya Alan pergi ikut bersama anggota Wolfpack lainnya ke Thailand. Namun ketika ingin merayakan pesta bujang, kejadian yang sebelumnya terjadi di Las Vegas nyatanya terjadi kembali di Thailand.

Ketika pagi tiba, Phil mengecek setiap anggota dari Wolfpack. Doug ternyata selamat ia berada di Resort. Namun ternyata mereka kehilangan Teddy (Mason Lee), adik dari Lauren (Jamie Cheung) tunangannya Stu. Mereka panik setelah menemukan potongan jari Teddy, takutnya Teddy sudah meninggal. Ditengah pencarian tersebut hadirlah Mr.Chow (Ken Jeong), yang juga sempat hadir dan membawa masalah di film pertamanya. Chow berniat membantu mencari Teddy, namun sayangnya ia sempat tak sadarkan diri dan akhirnya hanya Stu, Phil dan Alan yang berjuang mencari keberadaan Teddy.

Sequel dari film Komedi yang sukses menyabet penghargaan ini, masih disutradarai oleh Todd Phillips. Aktor dan aktrisnya pun masih sama. Namun perbedaannya mungkin adalah kehadiran Jamie Chung. Mike Tyson pun yang hanya sebagai pemanis di film pertama, kembali hadir dan menyumbangkan suaranya di film kedua ini.

Bisa dibilang dari awal hingga akhir film ini jauh lebih terkesan datar dibandingkan film pertamanya yang sempat membuat saya tertawa terbahak - bahak. Komedi yang berusaha dihadirkan oleh Zach Galifianakis pun terlihat biasa saja, karena beberapa diantaranya sudah sempat kita bisa lihat di film pertamanya dan  di duetnya bersama Robert Downey Jr. di Due Date. Kalau cerita bisa dibilang dari awal hingga akhir, memiliki beberapa unsur yang sama seperti di film pertamanya. Jadi kalau di konklusikan, film ini lumayan menghibur dan bagi Hangover fans jangan melewatkan film yang satu ini. Yang Harus diacungi jempol adalah pemilihan Soundtrack yang begitu ciamik menurut saya.

Cast : Bradley Cooper, Ed Helms, Zach Galifianakis, Justin Bartha, Ken Jeong
Director : Todd Phillips

Rating :
2/5

Movie Still :